Perjalanan ke Negara Penakluk Amerika

Irwan Prayitno*

Setelah membaca artikel dari Pak Yudi mengenai perjalanan ke Jerman sebagai negara maju, giliran saya ditengah kesibukan riset, mencuri waktu untuk menulis artikel tentang Vietnam yang merupakan negara berkembang. Pada saat saya akan berangkat ke Vietnam, Oktober lalu, saya berusaha membayangkan, seperti apakah negara itu? Dan upaya itu selesai saat saya mendarat di Airport Noi Bai, Hanoi. Bangunan Airport tersebut lumayan modern, dan begitu kami keluar dari pintu pesawat, puluhan langkah kemudian langsung berhadapan dengan loket imigrasi. Wah pendek sekali! Setelah melalui counter imigrasi, saya dan Djoko (teman di Todai) langsung mencari Money Changer untuk menukar Yen ke Dong, dan ternyata tidak ada. Kami terpaksa menukar di kantor pos dengan dirubung para calo valas dan supir taxi gelap. Akhirnya setelah celingukan kami naik taxi resmi airport dengan biaya 10 USD.

Di sepanjang perjalanan kami melihat ke kiri kanan expressway, dan kita melintasi jembatan di atas Red River, sungai yang bermuara dari China yang lebar sekali. Supir Taxi berbicara casciscus dalam bahasa Inggris, menerangkan keadaan negeri pengekspor beras itu yang dia anggap masih miskin

Sekitar 45 menit kemudian kami tiba di Hotel bintang lima Daewoo sebuah investasi dari Korea. Kamar yang kami tempati sangat besar namun sangat murah. Dari dalam kamar kita dapat melihat keluar lalu-lintas motor yang bersliweran tak beraturan dengan bunyi klakson bersahut-sahutan.

Sedikit mengenai konferensi ini; Konferensi ini dilaksanakan dua tahunan oleh Eastern Asia Transport Society yang beranggotakan researcher dari Jepang, Australia, New Zealand, Hongkong, Singapore dan Negara berkembang ASEAN lainnya. Pemodal utamanya tak disangsikan lagi adalah Jepang yang dengan giat-giatnya mencengkeramkan kuku investasinya di negara-negara berkembang. Bagi saya pribadi, manfaat dari konferensi ini adalah lebih mengenal keprofesian saya, dengan melihat riset rekan-rekan dari negara lain dalam session bidang yang sama yang merupakan barang baru bagi saya. Selain itu saya, pada saat konferensi, melihat professor-professor yang namanya tercetak dalam buku Textbook kelas dunia bersliweran. Saya merasa senang bila bisa melihat presentasinya, dan bertanya.

Pada malam harinya, kami dijamu makan malam dengan diiringi musik tradisional Vietnam yang mirip Sinden Sunda. Dan saya sempat terkejut dengan salah satu lagu yang dibawakannya adalah lagu Bengawan Solo?! Saya bertanya mengapa bisa demikian, lalu rekan saya menjawab itu bawaan tentara Jepang. Wallahualam.

Dan kalau kita menelusuri wilayah downtown disana, akan mengingatkan kita pada Indonesia pada tahun 1970 an di mana belum ada Mall-mall raksasa, hanya ada toko-toko pribadi dengan dagangan yang terspesialisasi.

Kami berjalan sampai malam menelusuri jalan protocol tersebut dan kesan yang mendalam adalah kebersihan dari pedestriannya. Walaupun lalu-lintas semrawut tapi taman-taman dan danau-danau yang belasan jumlahnya sangat bersih dan teratur.

Keamanan dari Negara Komunis ini cukup terjamin, Bapak dan Pahlawan dari Negara ini adalah Ho Chi Minh atau disebut Uncle Ho, beliau adalah panutan dari anak bangsa tersebut. Patung Lenin yang menjulang dan Bendera Merah dengan Bintang memberi kesan komunis pisaaan!. Dan dari Nasionalisme inilah mereka berhasil mengusir tentara Amerika dari tanah airnya. Hanya saja Amerika terlalu arogan untuk mengakui kekalahannya. Slogan yang terdengar di TV Amerika “If they don’t loose, they win”.kini diulang lagi sekarang untuk berhadapan dengan Afghanistan dan ditambah ‘We have to win, this time!” Wah terlalu.

Kaitan dengan filosofi yang sempat berkembang di Vietnam ini adalah berasal dari Confucius yang hidup pada 500 tahun BC. Confucius adalah seorang intelektual di bidang Militer (ahli panah), Matematik, dan Politik Kenegaraan. Dan sejarah Confucius ini tercantum dalam prasasti di luar museum seni di Hanoi. Duh, Kanji semua dan memang peradaban Cina pada masa itu sangat maju.

Back to the topic. Setelah konferensi selesai, esoknya kami tour seharian. Salah satu tempat yang dikunjungi adalah tempat kerajinan bordir yang mempekerjakan anak-anak korban ranjau darat. Walaupun mereka sekarang dalam kondisi yang baik, tapi cacat yang harus merasa sandang benar-benar memilukan dan di dalam benak saya bertanya “kenapa mereka yang harus jadi korban?”.

Dengan kesan yang mendalam mengenai korban perang, kami melanjutkan perjalanan ke Halong Bay, suatu teluk yang indah dengan puluhan bukit-bukit karang yang menyembul tinggi dengan tumbuhan yang hijau. Indah nian!, bak pemandangan di film De Caprio ‘the Beach’.

Kami semua naik ke atas boat dan menikmati pemandangan dengan angin semilir. Dan kadang-kadang kami dipepet oleh perahu-perahu lain yang menjajakan dagangan ikan, kepiting, udang, kelapa muda dan lain-lain. Dan kamipun makan Sea Food di boat dengan lahap bersama sambal cabenya.

Setelah berjam-jam berputar di teluk yang spektakuler itu, kami kembali ke pelabuhan dan kembali ke Hanoi. Belum puas juga rasanya, setelah masuk kota kami langsung turun dari bus, dan berpisah dengan rombongan untuk menyaksikan yang disebut water puppet.

Water Puppet adalah pertunjukan seperti wayang golek, namun dimainkan di atas air oleh beberapa dalang. Dan menurut sejarahnya pertunjukan ini dimainkan pada musim banjir. Pertama kali saya pikir dalangnya itu menyelam di bawah wayang golek itu! Ternyata tidak, pemainnya ternyata bersembunyi di balik tirai dan menggerakkan boneka dengan tangkai bamboo yang sangat panjang.

Setelah itu kami pulang dengan kelelahan namun hati yang puas. Demikianlah kesan-kesan mengenai Hanoi, ibu kota Vietnam sebuah negara yang sedang giat-giatnya membangun di Asia Tenggara. Semoga mereka berhasil dan semoga juga kita.

Nara Sumber : Supir Taxi di perjalananan ke Hotel, : Tour Guide di dalam bus Ke Halong Bay

*Penulis adalah Alumni Tokodai

Leave a Reply