[ZEBRA 2012: 2] Estimation of non Mosquito Dengue Fever Vector in Singapore using agent based modeling dan oxy-combustion of Hydrothermally Treated Biomass

Oleh : Nur Akmalia Hidayanti
Editor : Natalia Maria Theresia

Suzukakedai(24/10/2012) – ZEBRA 02 menghadirkan Muhammad Al Atiqi mahasiswa pertukaran ACAP dari NTU, Singapura dan Srikandi Novianti ,mahasiswa M2 dari Yoshikawa Lab, Dept. of Environmental Science and Engineering, memaparkan tentang penelitian di Lab masing-masing. Diskusi di antara audiens dan pembicara seringkali terjadi selama presentasi berlangsung. Besarnya antusiasme audiens terhadap presentasi masing-masing pembicara menambah seru suasana ZEBRA kedua kali ini.

Muhammad Al Atiqi, atau biasa disapa Al, meneliti mengenai Estimation of non Mosquito Dengue Fever Vector in Singapore using agent based modeling. Penyakit demam berdarah dengue ini adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Gejala yang ditimbulkan biasanya berupa demam, muntah, dll. Perlu diketahui, nyamuk Aedes yang mengigit manusia hanya yang betina , karena nyamuk betina membutuhkan asupan protein dalam darah yang dibutuhkan untuk regenerasi. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh  terjadinya outbreak demam berdarah dengue di Singapura. Hal ini cukup mengejutkan, mengingat Singapura merupakan negara dengan tingkat sanitasi tinggi sehingga jarang ditemukan nyamuk di sana. Oleh karena itu, munculah pertanyaan: Mengapa dengan jumlah nyamuk yg sedikit terjadioutbreak DBD di Singapura? Al menjelaskan bahwa nyamuk yang menyebabkan DBD diperkirakan berasal dari Malaysia. Dilihat dari susunan DNA-nya, nyamuk Aedes di Singapura memiliki DNA yg berbeda dari strain yg berada di Malaysia. Oleh karena itu, hipotesis yang disarankan mengenai penelitian ini adalah terdapatnya reservoir yang membuat masyarakat Singapura terinfeksi virus yang dibawa Aedes aegypti. Digunakan metode penelitian yang menggunakan  tiga pendekatan yang melibatkan variable yang berbeda. Masing-masing model memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. Nantinya, output dari masing-masing model akan dicocokkan dengan data yang ada di Singapura. Harapannya, jika diketahui penyebab terjadinya outbreak DBD yang terjadi di Singapura melalui simulasi yang dilakukan, dapat dikembangkan metode pencegahan DBD melalui metode simulasi yang memerlukan algoritma yang lebih advans

Pembicara kedua setelah Al adalah Srikandi Novianti, yang sehari-harinya akrab dipanggil Mba Sre. Penelitian master Mba Sre di Yoshikawa Lab adalah mengenai Oxy-combustion of Hydrothermally Treated Biomass. Penelitian ini dilaterbelakangi oleh terbatasnya energi fosil yang mendesak ditemukannnya sumber-sumber energi alternatif, terutama bioenergi  agar kebutuhan dan pasokan energi tetap terpenuhi. Bioenergi memiliki kelebihan tersendiri: karbon yang dikeluarkan bersifat netral dan berasal dari bahan baku yang dapat diperbarui. Salah satu potensi bioenergi adalah biomassa. Faktanya, Indonesia termasuk ke dalam negara yang memiliki jumlah limbah biomassa dalam jumlah besar. Pada tahun 2008, Indonesia merupakan negara penghasil sampah biomassa yg berasal dari minyak sawit paling besar di dunia. Oleh karena itu, yang menjadi perhatian saat ini adalah perlunya inovasi teknologi untuk mengubah biomassa menjadi biofuel. Namun, terdapat hambatan tersendiri untuk mengubah biomassa menjadi energi. Diantaranya adalah bahan baku biomassa memiliki bentuk, komposisi dan densitas energi yang beraneka ragam. Oleh sebab itu, perlu dilakukan suatu pre-treatment agar biomassa yang digunakan memiliki bentuk yang seragam agar pembakaran yang dilakukan pada tahap selanjutnya lebih efektif.

Bahan baku yang digunakan dalam penelitan ini adalah EFB (empty fruit bunch) yang berasal dari sampah pengolah minyak sawit. Sebelum dilakukan oxy-fuel combustion, dilakukan hydrothermal treatment terlebih dahulu agar biomassa menjadi lebih homogen.  Biomassa diolah menjadi bentuk yg lebih mudah untuk digunakan, seperti powder (bubuk). Digunakan boiler untuk menghasilkan uap sebagai sumber kalor. Metode ini memiliki kelebihan dibandingkan dengan metode pembakaran biasa, seperti emisi  CO2 yang lebih sedikit dan tidak memerlukan proses pengeringan. Selain itu,  hydrothermal treatment terbukti menghasilkan densitas energi yg lebih tinggi. Tahap selanjutnya yang akan dilakukan adalah proses oxyfuel combustion akan dilakukan  beliau November nanti di Korea Selatan. Keuntungan oxyfuel combustion dibandingkan dengan thermal combustion adalah adanya proses daur ulang dan penggunaan CO2 dalam konsentrasi yang tinggi. Diharapkan, net carbon balance yang dihasilkan oleh biomassa tersebut  bersifat negative agar dampak pada lingkungan juga membaik.

Sekian laporan ZEBRA kedua dari Suzukakedai. Sampai jumpa di Zebra 03 edisi O-okayama Rabu, 31 Oktober 2012.

Leave a Reply