The Early Warning System: FAIL !

Oleh: Rhiza S. Sadjad

Anis Matta, selaku Presiden baru PKS telah melarang kader dan pengurus PKS agar tidak membahas aspek hukum dari peristiwa penangkapan LHI oleh KPK karena sudah ditangani oleh satu tim pengacara-nya. Kita hormati larangan itu, makanya dicoba dibahas aspek lainnya terkait dengan peristiwa itu. Tentunya hal ini perlu, untuk menjawab pertanyaan yang bergejolak di benak masyarakat.

Suatu hari di masjid sesudah salat Asar ,di kampus tempat saya bekerja, dan juga di mana-mana acap ditemui wajah-wajah penuh tanda-tanya, ” kenapa PKS? Apa yang terjadi?” Tentu saja saya tidak bisa menanggapinya dengan tutup mulut, juga saya tidak bisa menanggapinya dengan menghujat PKS habis-habisan seperti yang banyak dilakukan orang yang tidak senang kepada (pimpinan) PKS . Menurut pendapat saya, ada suatu sistem internal PKS yang tidak jalan di level DPP yang saya sebut dengan “the early warning system“, suatu sistem yang melindungi segenap kader, bahkan simpatisan atau pun calon kader yang potensial. Musibah yang dialami LHI (dan karena beliau adalah waktu itu Presiden PKS, maka jelas musibah ini menjadi musibah untuk PKS, bahkan bagi seluruh bangsa Indonesia), merupakan suatu FATAL ERROR dari suatu sistem peringatan dini yang tidak jalan. Untuk menjelaskan bagaimana bekerjanya sistem peringatan dini di lingkungan internal PKS ini, berikut beberapa kasus-kasus nyata yang saya alami saat ber-interaksi dengan aktivitas PKS, mulai dari kasus lama yang terjadi beberapa tahun lalu hingga yang baru beberapa pekan lalu muncul.

Dulu, ada seorang ustadz PKS yang biasa di-daulat jadi imam di sebuah masjid. Ketika kami berkunjung ke masjid itu, kebetulan kami dapati ada jama’ah yang senyum-senyum mendengarkan sang imam me-lafadz-kan ayat-ayat suci al-Qur’an dalam salat-nya yang memang terasa agak “aneh”. Olehnya itu, dalam pertemuan-pertemuan dengan ustadz itu, diupayakan agar sang ustadz mengubah sedikit cara me-lafadz-kan ayat-ayat al-Qur’an, sehingga terdengar “biasa- biasa” saja. Alhamdulillah, sang ustadz pun selamat dari fitnah yang mungkin lebih besar ketika ber-interaksi dengan masyarakatnya.

Contoh lain di beberapa tahun lalu, ada lagi ustadz PKS yang terpilih menjadi Kepala Daerah. Kami mengetahui bahwa ustadz ini agak “sloppy” dalam mengelola keuangan. Menyadari kelemahan sang ustadz, kalangan tertentu  mulai membuat pendekatan sebagai pencegahan .Dikirimlah dua akuntan senior (kader PKS juga, tentu saja) yang mendampingi beliau sehingga  alhamdulillah sampai sekarang beliau  sekarang pun beliau pun dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan selamat dari fitnah besar yang mungkin terjadi dan tentunya  mudah-mudahan seterusnya dapat  khusnul khatimah dalam jabatannya.

Ustadz PKS pun manusia, tidak lepas dari dosa dan kesalahan, sengaja mau pun tak sengaja. Sistem peringatan dini yang dibangun PKS adalah untuk menjaga agar kader PKS, khususnya yang menjadi pejabat publik, tidak terjerumus maupun dijerumuskan. Dasarnya sistem ini adalah kasih-sayang, kader-kader PKS diharapkan untuk saling mencintai dan berkasih-sayang, dengan jalan saling menjaga, mengantisipasi kemungkinan sanksi dari sistem di luar, yang sering sangat kejam, meng-hukum kader PKS dengan sanksi moral, sanksi sosial, bahkan sanksi hukum yang mendahului peringatan dan tindakan dari dalam PKS sendiri. Itulah peranan dari  “code of conducts“, Dewan Syari’ah. Namun, sistem peringatan dini akan menjadi lebih penting peranannya. Tentunya kita sudah sering mendengar: lebih baik mencegah (preventif) daripada memperbaiki (kuratif). Memang untuk menjaga keamanan fisik, di PKS ada Pandu Keadilan yang menjaga kader-kader PKS dari serangan fisik dari luar, namun di jaman sekarang ini pembunuhan karakter jauh lebih kejam daripada pembunuhan biasa dan lebih destruktif akibatnya bagi PKS.

Beberapa tahun yang lalu ada seorang anggota PKS yang ditengarai oleh keluarganya dua atau tiga kali mengunjungi seorang wanita, aktivis LSM dari Jakarta, di hotelnya. Laporan ini ditindak-lanjuti dengan menyelidiki “track-record” dari wanita tersebut dan diperoleh hasilyang memang tidak terlalu bagus. Sudah ada beberapa korban di beberapa daerah lain, meski belum ada satu pun yang kader PKS. Mengetahui hal ini, orang itupun dipanggil oleh Dewan Syari’ah, kemudian diberi teguran keras agar memutuskan hubungan total dengan wanita aktivis LSM itu. Beliau juga diberi sanksi membaca istighfar 100 kali sehari, tilawah minimal 2 juz sehari, dst. Alhamdulillah, kini beliau selamat, dan terpilih kembali pada tahun 2009 yang lalu.
Dua pekan lalu diperoleh kasus lain. Masuk laporan ke kaderisasi, bahwa ada calon kader kampus yang didapati makan bakso berduaan dengan seorang teman wanitanya. Insya Allah, laporan itu sedang ditindak-lanjuti,  bukan karena akan memperlakukan sang aktivis calon kader potensial ini dengan “sewenang-wenang”, menerabas hak pribadinya menraktir pujaan hatinya, namun melainkan karena PKS sangat menyayanginya. Ini adalah “preventive action“,mencegah peristiwa yang mungkin bisa kita anggap remeh menjadi fitnah di lain hari.

Selesai saya bercerita begitu seseorang dari jama’ah yang asyik mendengarkan lalu menyambar “Wah, seharusnya sejak jadi Presiden PKS, LHI di-steril-kan dari hubungan dengan orang-orang macam si Olong itu “. Rupanya beliau tahu betul latar-belakang si Olong Ahmad Fathonah bin Fadhil Lurang ketika mudanya di Makassar dulu.  Mungkin ini sebabnya Anis Matta mengambil langkah awal bertobat dan kemudian membenahi sistem internal.  Memang tampaknya ada yang “bobol”. Ibaratnya account Facebook, password-nya sudah dibajak oleh orang lain dan diacakacaklah PKS  sebelum sistem internal bekerja mencegahnya secara dini . Wallahu’alam.

*dengan penyuntingan seperlunya*

Leave a Reply