Last Lecture : Dr. Pandji Prawisudha dan Dr. Nopriadi Hermani

Last Lecture

Oleh : Nur Akmalia Hidayanti
Editor : Natalia Maria Theresia

Suzukakedai (12/03) – Terinspirasi program TEDx yang mengusung tema “Ideas Worth Spreading”, PPI Tokodai, beserta PPI Kanto dan PPI Jepang kembali menghadirkan bincang tokoh special. Kali ini, ‘daisenpai’ PPI Tokodai yang akan segera kembali ke Indonesia, yaitu Dr. Pandji Prawisudha dan Nopriadi Hermani menjadi pembicara special dalam acara “Last Lecture”.Masing-masing pembicara menghadirkan tema yang berbeda, Panji Prawisudha menuturkan pengalaman pribadinya melalui “Mengapa saya kembali ke Indonesia”, sementara Nopriadi Hermani menjelaskan tentang pentingnya mempunyai self-model melalui “Tuning your self-model”.

Fragmen-fragmen singkat yang dikemas dalam satu presentasi apik membawa penonton menyelami seluk beluk kehidupan laki-laki yang akrab dipanggil Mas Pandji tersebut. Alih-alih semua yang hadir di Gedung J2 lantai 20 tersebut dapat memahami filosofi hidupnya bahwa hidup tidak hanya sekadar mengejar materi semata. Jika ia ingin mengejar posisi mapan, tentu ia tidak akan mengikuti tes CPNS di ITB demi mendapatkan posisi sebagai calon dosen di Institut gajah duduk tersebut. Posisi nyaman di Tokodai sebagai asisten professor tidak serta merta membuatnya melupakan cita-citanya untuk menjadi dosen ITB dan membangun incinerator untuk mengatasi masalah sampah di kota Bandung. Tekadnya pergi sekolah ke Jepang untuk suatu saat kembali ke Indonesia, nyatanya telah terpatri selama lima tahun perantauannya di negeri matahari terbit ini. Bagi mas Pandji, sekaranglah saat yang tepat untuk kembali dan mengabdi di tanah air tercinta, mengamalkan ilmu dengan mengajar di almamater, sekaligus mengembangkan proyek riset yang ia miliki di Jepang. Dengan perasaan mengharu biru, mas Pandji mengakhiri presentasinya dengan menyanyikan lagu Indonesia Pusaka yang diiringi dengan petikan gitar.

Presentasi kedua yang dibawakan oleh Pak Nopri tidak kalah menariknya. Kali ini, doktor lulusan Tokodai di bidang pattern recognition tersebut mengambil tema terkait psikologis manusia, yaitu bagaimana membangun self-model berdasarkan kebiasaan (habit) manusia. Terinspirasi tema riset doktoralnya, Pak Nopri mengibaratkan tuning layaknya proses memutar frekuensi radio pada rentang panjang gelombang tertentu, sampai menemukan siaran radio yang diinginkan. Dalam riset doktoralnya, ia mencari persamaan matematis yang tepat agar tercipta sebuah mesin yang dapat mengenali suatu masalah dan mengambil keputusan.

Menurut Pak Nopri, seseorang yang memiliki self-model mampu memprediksi respon pribadi terhadap masalah yang terjadi di lingkungan. Sebagai contoh, orang yang demikian dapat memprediksi respon apa yang diberikan terhadap istri, suami, anak, teman, bahkan atasan dalam berbagai situasi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Proses tuning juga terkait dengan perkembangan kecerdasan manusia, dimana training (pikiran dan tindakan) akan menghasilkan tuning (kebiasaan) yang pada akhirnya akan membentuk self-model (karakter). Proses tuning juga terkait dengan trainers yang terlibat dalam kehidupan kita, yaitu keluarga, sekolah/perusahaan, dan masyarakat. Secara tidak langsung, perilaku orang tua di rumah menjadi model bagi perilaku anak-anaknya di kemudian hari dan berperan langsung dalam desain model sang anak. Maka dari itu, proses tuning merupakan proses berpikir yang disertai tindakan simultan secara terus menerus. Jika seseorang tidak pernah terlatih , maka ia tidak akan pernah terampil dan tidak akan pernah bisa.

Last Lecture malam itu diakhiri dengan acara makan bersama dan foto-foto yang tak kalah meriahnya. Semoga presentasi dan sharing dari kedua pembicara Last Lecture kali ini memberikan inspirasi dan manfaat bagi siapapun yang menyimaknya. Selamat kembali ke tanah air dan mengabdi di almamater untuk Mas Pandji dan Pak Nopri. Sukses selalu dan sampai bertemu lagi di lain kesempatan!

Leave a Reply