Category Archives: Lukisan Pena

Hari Anti Korupsi

 

Sedikit komik pendek dari PPI Tokodai mengenai hari anti korupsi sedunia, selamat membacakorupsi

Tanpa Judul

Aku berlari sendiri
Bermain di lapangan lebar yang terangkangi langit lepas
dengan sepoian angin lembut dan belaian matahari di pipi
apakah aku ini?
membenci kepalsuan dan pengkhianatan,
tapi bermanja dengan mereka?
sebagaimana mencaci kemunafikan
dan sementara masih bermesraan dengannya?
memahami kejujuran sebagai kenyataan absurd pada diri manusia
mungkin aku yang tidak terlalu jujur,
ataukah manusia lain yang tidak juga begitu.
entahlah.

Rembulan Setengah Sabit

Oleh Vani Diana Puspasari*, 21 Nopember 2001

Untuk setiap detik yang kulewati dalam malam-malam yang dingin di Bandung, aku ucapkan terima kasih kepada Allah. Keheningan syahdu yang hampir setiap saat berpadu dengan kerlip gemintang atau berganti-gantinya rupa rembulan: sabit, setengah, atau purnama. Bandung, aku tinggal di sebuah rumah yang dijadikan tempat kost-an mahasiswa. Seluruhnya wanita, dan sebagian besar muslimah. Rumah kost kami memiliki taman yang cukup luas, dengan rumput menghampar, rumpun bunga mawar putih, melati, dan berbagai pepohonan lainnya yang tertata rapi.

Melempar Koin di “Trevi de Fontana”

Wahyudi*

Wah jadi pengin ikutan nulis tentang perjalanan yang aku lakukan dua bulan yang lalu. Tanggal 7 Juli – 17 Agustus 2001 aku harus menghadiri IEEE/ASME International Conference on Advanced Intelligent Mechatronics di Como, Italia. Aku sendiri cuman ngebayangin pergi ke konferensi saja 4 hari habis itu pulang. EH nggak tahunya, perjalananku di support oleh Sasaki Memorial Foundation sehingga aku malah harus melakukan perjalanan selama 10 hari dan harus menghabiskan uang 300 ribu yen. Senseiku yang kemudian mengatur perjalananku. Dia nanya nanya aku pengin ke mana aja selama di Italia, terus selain ke Italia aku di tawarin mau ke Paris apa ke London. Akhirnya aku memilih pergi ke London karena aku punya temen di sana yang bersedia mengantarkan aku keliling kota London. Maka jadilah di sepakati route perjalananku di eropa, yaitu 2 hari jalan-jalan di kota Roma, terus sehari di Milan, 4 hari seminar di deket danau Como, dan sisanya berada di London.

Setelah melewati penerbangan panjang dan membosankan, aku mendarat di bandara Fuiminco, Itali. Selesai urusan imigrasi aku kemudian pergi ke kota Roma dengan menggunakan kereta api. Ada kejadian lucu di stasiun. Ternyata mesin untuk beli karcis kereta api berbahasa Itali, ada petunjuk bahasa inggrisnya tapi nggak jelas. Kita kita orang asing pada kebingungan pencet pencet itu mesin, semua nyoba tapi nggak berhasi. Untung akhirnya ada bapak bapak orang Italia datang dan bisa bahasa Inggris. Akhirnya dia bantuin lebih dari 10 orang asing beliiin karcis kereta. Dan celakanya aku ama dia beli karcis bareng dan kebingunan nyari pecahan uang kembalian ke aku. Akhirnya aku harus ngikutin kemana dia naik kereta api sambil dia nyoba nyari uang kembalian.

Ya akhirnya semua urusan selesai dan nyampe di hotel deket Stasiun Termini. Pagi hari aku jalan kaki menuju stasiun Termini untuk mencoba memetakan situasi. Pertama melihat sistem transportasi kedua ya mencari tempat orang jualan kartu telpon murah sebagai pengganti kartunya mas Yudi. Setelah terpetakan semua aku balik ke hotel mandi dan akses internet. Aku emang pilih hotel yang ada fasilitas internetnya. Habis mandi dan makan pagi dimulailah perjalanan seorang diri mengelilingi kota Roma.

Dengan membeli karcis terusan aku naik bis keliling kota Roma dengan berbekal peta. Hem kota Roma itu indah sebenarnya. Sangat indah, sayang tak ada seorangpun di sampingku yang bisa aku ajak ngobrol tuk ngomentarin keindahannya. Eh ada lagu yang lagi populer di Roma saat itu, aku denger lagu itu berkali-kali. Judulnya adalah Snow in Sahara, dan yang nyanyi si Anggun C Sasmi. Seharian sampe jam 5 sore aku mengunjungi Roman Forum, Imperial Forum, and Colosseum (tempat orang main Gladiator), St. Peter’s dan Vatican. Menarikkah tempat itu ? Hem kalo ada temen ngobrol kayaknya menarik, tapi buatku ya hanya mengisi hari saja daripada bengong di hotel. Aku rada lama di Colosseum sambil mencoba membayangkan para gladiator sedang bertarung.

Ya aku melihat sebuah masa lalu Italia yang megah dan didirikan atas dasar kekuatan otot. Pertandingan antar gladiator menunjukkan betapa mereka mengagungkan kekuatan otot mereka itu di masa silam. Sejenak aku teringet ceritanya Alvin Tovler dalam bukunya yang berjudul Powershift. Dia bercerita tentang telah terjadinya pergeseran kekuatan dalam sejarah peradaban manusia. Kalo nggak salah dia ngomong bahwa di dunia telah terjadi pergeseran kekuatan dari kekuatan otot (power of muscle), kekuatan uang (power of money) dan kekuatan pikiran (power of mind). Jalaluddin Rahmat pernah ngomong bahwa nantinya akan lagi terjadi pergeseran kekuatan dan berakhir pada kekuatan cinta (Power of Love, ini bukan judul lagunya Celine Dion).

Sore hari menjelang matahari terbenam (matahari terbenam jam 21.00 waktu itu) aku jalan jalan di Spanish Step dan kemudian menyusri jalan kecil menuju Trevi de Fontana (Air Terjun Trevi). Ada suatu mitos di air terjun ini, yaitu kalo kita melemparkan mata uang dan berharap balik lagi ke roma, maka suatu saat akan balik lagi. Tanpa bermaksud untuk percaya pada mitos ini, di tempat ini aku berdoa, “Ya Allah kalo memang suatu saat Engkau mentakdirkan aku datang lagi ke Roma, aku ingin tidak datang seorang diri tetapi.” Dan ikut ikutan aku lemparkan dua buah coin kecil. Capek terus pulang ke hotel.

Esok harinya dengan menggunakan kereta api aku pergi ke kota Milan. Sampai di Milan sudah rada siang. Tidak terlalu menarik kota Milan menurutku, jadinya aku hanya ke suatu tempat yang aku lupa namanya. Dan lagi lagi disitu aku nyari kartu telpon pengganti kartu telpponnya mas Yudi. Esok harinya aku pergi ke Como dengan kereta api lokal. Sampe di Como pagi hari dan mulailah aku menghadiri konferensi. Oh iya denk, di Milan aku mengunjungi Museum Science and Technology Loenardo da Vinci. DI situ banyak banget karya dari Leonardo di bidang science dan teknologi. Kalo kita ke situ kita akan tahu banget dia bukan hanya seorang seniman yang terkenal dengan Monalisa, teteapi juga seorang ilmuwan besar.

Hari pertama konferensi aku hanya registrasi aja, terus bertemu dengan sensei. Karena tema seminarnya yang terlalu lebar dan aku nggak terlalu berminat di hari pertama aku tidak dateng.istirahat di hotel. Sore harinya baru datang pada acara Lake boat tour dan welcome party. Emm danau Como sungguh indah. Dan kali ini rada lumayan, aku bertemu dengan orang Islam dari Pakistan, jadi ada temen ngobrol. Seminarnya ya hanya itu itu aja, seperti seminar yang lain. Aku lebih suka jalan sore hari di pinggiran danau atau duduk di pinggir danau memandang sambil menikmatinya indahnya suana sore hari. Hem angin sore hari menerpa lembut mukaku, membawaku pada suatu mimpi tentang doaku di Trevi dan Fontana.

Akhirnya beres juga seminar, dan senseiku ngatur jadwalku nggak enak, karena aku masih tinggal sehari meski seminar udah usai. Aku rada bingung mau ngapain seharian di Como seorang diri. Ya akhirnya jalan-jalan di sepanjang pinggiran dana, duduk duduk di pinggir danau kemudian naik ropeway melihat kota Como dari atas gunung. Sore capek dan tidur. Pagi hari keesokan harinya aku pergi ke Milan, dan dari bandara Malpensa aku terbang ke London.

Nyampe di bandara Heatrow siang hari, 13 July 2001. Aku inget banget hari itu, karena petugas imigrasi saat memeriksa ngomong ke aku, ‘Oh hari ini adalah hari ulang tahun anda ya, Happy birthday’. Wah aku malah lupa kalo hari itu adalah hari ulang tahunku. Hem tepat sudah aku berusia 31 tahun saat menginjakkan kaki di London. Aku nginep di Wisma Merdeka. Ini adalah guest house buat orang Indonesia yang di kelola oleh mahasiswa Indonesia. Sewanya murah sekali hanya 12 pound semalem termasuk makan pagi lagi. Sementara kalo di hotel termurah sekitar 50 poind semalem. Hem kapan ya di jepang ada Guest House seperti ini ?

Dengan di antar oleh temenku, aku berkeliling kota london selama 4 hari. Pergi ke Istana Buckingham ngelihat upacara pergantian pasukan jaga, terus melihat Big Ben, London Tower Bridge dan apa lagi ya. Oh iya aku juga menyempatkan pergi ke daerah yang namanya Notting Hill. Ada sebuah kenangan indah buatku tentang sebuah film berjudul Notting Hill yang dibintangi oleh Hugh Grant dan Julia Robert. Sehingga aku pergi ke Notting Hill untuk melihat suasana daerah itu. Eh aku juga jalan jalan ke Museum of Science dan Imperial College of London. Wah bagus banget museum science itu, sangat menarik untuk anak anak. Aku sempet nyoba naik flight simulator, terus juga nonton film 3 dimensi, dan simulator penerbangan ke angkasa luar kaya film Armagedon, wuih perut mual rasanya karena goncangan buatan.

Di London aku tidak perlu repot-repot mencari kartu telpon murah karena temenku di sana kerja di perusahaan kartu telpon seperti itu. Dia dapet gratisan tiap bulan dan aku di kasih satu kartu. Dan lagian kartu semacam itu di jual di supermarket/kombini. Banyak sekali pilihannya. Udah ah selesai. Akhirnya terbang lagi ke Tokyo.

*Penulis adalah alumni Tokodai

Anak Mungil Itu

anak mungil itu
lekat mata yang tertunduk
bahu bungkuk tanpa rusuk
tangis tak berduka
sorot tak berasa
kemarilah mungil
biar kudekap engkau
kuganti tangan kotormu dengan jariku
seka matamu dengan bahuku
lihat mataku
aku ada di sisimu

aCid